Dilema sikap kekasih dan harga diri

Diasuh : Om Sander

Tanya

Salam Om Sander. Senang saya membaca ulasannya. Ringan namun berbobot.

Rasanya ingin hati menemui Om. Biar ketemu langsung. Hanya lokasi saya di Medan (Sumatra Utara). Insya Allah sesegera nya saya bisa ke Jakarta.

Saya memiliki problem cukup berat. Bahkan sangat menyiksa hati saya. Jujur sampai ada keinginan mengakhiri hidup ini saja.

Berawal setelah kami tunangan. Disinilah awal kisahnya. Dan menjadi tidak berakhir sampai saat ini.

Saya harus jujur, ini kesalahan saya. Karena rela mengikuti maunya calon suami, melakukan hubungan sebelum kami menikah. Sampai saya hamil.

Tidak disangka calon suami menuduh, janin di rahim ku bukan darahnya. Ia menganggap benih dari pria lain.

Keluargaku sangat terhina. Bahkan tidak menyoalkan andai hubungan ku dengannya tidak berlanjut ke pernikahan.

Kemarahan orangtua begitu memuncak. Saat tahu calon suami engan tes DNA. Dia bersikukuh dan yakin, dengan berbagai argumen tuduhannya.

Memang aku kenal dengan pria dikatakannya. Namun tidak seperti yang dituduhkannya.

Harga diriku tergores. Begitu dalam. Sampai aku pun muak dengannya. Perasaan dan cinta ku pun menjadi hambar.

Kini di satu sisi, aku setuju dengan sikap orangtua ku. Namun di sisi lain, aku harus hamil tanpa kejelasan status anak kelak dilahirkan.

Mohon Om Sander sarannya. Terimakasih.

( Devi di Medan, Sumatra Utara )

Jawab

Hi kak Devi,
Saya turut prihatin dengan permasalahan yang kak Devi sedang hadapi. Sebelum kita masuk ke permasalahan kak Devi, saya ingin membagikan ilmu kehidupan yang menjadi pegangan saya.

Setiap musibah yang terjadi, bisa terjadi karena kelalaian kita dan bisa juga bukan karena kelalaian kita.

Apapun musibah yang sudah terjadi di masa lalu, dan kita tidak bisa merubahnya. Agar kita tetap bisa berdiri teguh, saya memilih untuk mempercayai bahwa semua musibah terjadi atas ijin Tuhan.

Walau saya yang salah, namun Tuhan mengijinkan hal itu terjadi, agar saya bisa belajar dari situ. Dan jika Tuhan sudah mengijinkan saya untuk belajar dari musibah itu, berarti Tuhan juga yang akan memberikan kekuatan bagi saya untuk bangkit dan sembuh dari musibah itu.

Dengan sedikit pandangan hidup yang saya bagikan diatas, maka ini pendapat saya.

Kak Devi, sekelam apapun masa lalu yang terjadi, kak Devi harus memandang ke masa depan, dan tetap berdiri teguh. Melangkah maju walau tertatih tatih.

Jalan kak Devi tidak akan mulus dan mudah pasti akan berat. Namun jangan patah arang. Kak Devi masih ada orang tua yang sangat mendukung, dan akan membopong kak Devi disaat terjatuh karena beratnya gunjingan orang di masa depan.

Dimasa depan kita tidak tahu, apakah akan menjadi lebih baik atau menjadi buruk. Perihal status anak kak Devi, jangan terlalu hiraukan omongan orang.

Lihatlah anak itu sebagai hadiah titipan dari Tuhan. Peliharalah dengan cinta sepenuhnya. Karena anak itu akan sangat membutuhkan ibu yang kuat, dan kakek nenek yang mencintainya sepenuh hati.

Banyak kasus ayah yang menolak anaknya, akhirnya luluh dan mengakui anaknya seiring dengan waktu. Namun kita tidak tahu kapan ini waktunya.

Saran saya yang terbaik adalah, berdoa pada Tuhan. Masakan Tuhan tidak terharu dengan semangat hidup Kak Devi, untuk tetap menjaga cinta tulus seorang ibu didalam membesarkan anak. Jika Tuhan sudah terharu entah keajaiban apa yang akan terjadi kelak di kehidupan kak Devi.

Kak Devi tetap kuat ya. Walau seluruh dunia seakan mencemooh kak Devi, ingatlah ada orang tua kak Devi yang jadi sandaran, dan ada Tuhan yang selalu siap menerima kak Devi seutuhnya.

Buatlah Tuhan terharu. Dan saya yakin hidup kak Devi akan penuh dengan berkah berkahNya.

 

 

 

Info dan Pertanyaan : 085246776009