Mukjizat, diantara rumah tertelan bumi, baru 1 orang hidup

Palu – Tangis bahagia Yusuf pecah, saat tim Basarnas berhasil mengangkat tubuh Nurul Istikharah (15) dari dalam tanah (30/9). Sulung dari dua bersaudara itu, adalah warga Perumnas Balaroa Palu, yang terletak 10 km dari Bandara Sis AL Djufri Palu.

Tidak ada yang menyangka Nurul dapat ditemukan hidup. Ia mampu bertahan 30 jam semenjak gempa Palu terjadi (28/9).

Dari 90 laporan warga Perumnas Balaroa yang terdiri dari 4 RT, yang hilang akibat gempa Palu berkekuatan 7.4 Skala Richter, hanya Nurul berhasil ditemukan hidup, meski dalam keadaan lemas.

Sebelumnya tim Basarnas berhasil menemukan korban lain di Perumnas Balaroa, namun keadaan meninggal. Di lingkungan Perumnas Balaroa, berdiri 700 rumah, dengan total warga 1240 orang.

Pertolongan di Perumnas Balaroa terus dilakukan tim Basarnas. Lokasi Medan sulit menjadi kendala tersendiri, selain mendatangkan alat berat.

Kondisi juga diperparah dengan kontur tanah membahayakan. Seperti diketahui, hampir sebagian besar rumah di Perumnas Balaroa, tertelan bumi dan tertimbun tanah di atasnya. Paling rendah rumah tertimbun sedalam 5 meter, dan ada mencapai 20 meter terperosok masuk ke dalam bumi.

Hal ini diakibatkan guncangan dasyat gempa, bukan luapan tsunami. Sehingga tanah dibawah rumah seperti lumpur. Dan mampu membenamkan rumah secara keseluruhan berikut isinya ke dalam bumi.

Tidak dapat dibayangkan korban yang masih terjebak, dan belum ditemukan. Kuat dugaan kemungkinan meninggal saat berhasil ditemukan.

Kini rumah di lokasi Perumnas Balaroa sebagian besar rata dengan tanah. Beruntung Nurul sebelum ditolong, masih ada ruang untuk bernapas selama ini. Meski dari leher sampai kakinya terendam air dan lumpur. Sedangkan sang ibu, Risni (40) meninggal, di lokasi sama tempat Nurul ditemukan.

Malam begitu gelap gulita di Perumnas Balaroa. Listrik belum berfungsi. Bau menyengat menusuk hidung.

 

(* Indra Gunawan )