Demi dukun menggiring ku masuk penjara

Keserakahanku membawa bencana. Bukan saja merugikan karir suami siriku, masa depan dan profesi keartisanku juga hancur berkeping-keping. Terpuruk tubuhku kini dibalik terali penjara.

Tak kusangka jalan hidupku seperti ini. Sungguh tidak dipercaya. Namun ini kenyataan yang terjadi.

Aku harus ikhlas menghadapi kenyataan ini. Terpisah oleh keluarga, karena malu melihatku dalam sel. Tidur berselimut dinding lantai tidak terawat. Berbeda jauh saat diriku masih tinggal di rumah mewah, dengan penjagaan keamanan pribadi.

Kesunyian menjadi teman sejati. Tidak ada gelak canda dari sahabat, yang tadinya selalu mengunjungiku dirumah siang malam. Mereka sepertinya engan menemuiku. Membantu masalahkupun tidak.

Inilah kenyataan hidup. Oh Tuhan, betapa ringkihnya aku. Tidak terbersit dalam pikiran semua berubah tiga ratus enam puluh derajat.

Ini semua karena keserakahanku pada dunia. Keegoisanku menuntut pembenaran pada keputusan yang kulakukan. Sampai aku lupa, ketidaksempurnaanku sebagai manusia.

Semestinya aku sadar. Bahwa diriku serba kekurangan. Sama dengan manusia lainnya memiliki ketidak sempurnaan. Sehingga mampu untuk tidak menuntut lebih, dan meminta keistimewaan pada Sang Pencipta.

Sampai aku lupa, saat merebut cinta Dimas, telah merebut kebahagiaan Lastri. Istri sah dan belum diceraikan Dimas itu.

Aku lupa pada janji terucap pada Dimas, sebelum pernikahan siriku terlaksana. Kalau aku tidak akan menguasai Dimas seutuhnya. Termasuk juga tidak akan merusak profesinya sebagai pejabat Negara.

Saat Iblis datang

Dua hal itu menjadi syarat Dimas. Dan aku menyetujui. Karena ada kompensasi yang kudapatkan dari kenakalannya itu. Baik rumah mewah dengan segala isi perabotan kelas dunia, maupun uang bulanan dalam jumlah fantastik.

Terasa luar biasa kehidupanku. Mampu membeli apapun dalam sekejap. Gaya hidup glamour menjadi santapan setiap hari. Punya suami tampan, kaya, pejabat, dan sangat mencintaiku lebih dari istri pertama dan dua anaknya.

Sampai pada akhirnya setan menggugah janjiku. Begitu dasyat godaannya. Membuatku menuntut lebih dan berlebihan pada Dimas.

Aku menjadi tidak peduli. Seperti kemasukan raja iblis. Aku minta diakui sebagai istri di lingkup pekerjaannya. Aku minta dipertemukan pada Lastri, bahwa aku juga istri Dimas.

Dimas menolak. Dia tetap pada pendiriannya. Tidak akan mungkin dapat memenuhi tuntutanku itu.

Akhirnya keserakahan dan egoku menjadi panglima perang. Menuntunku tanpa kompromi memilih jalan sesat.

Ya. Aku menemui atasannya. Aku tunjukkan bukti sebagai istri Dimas. Aku katakan hanya ingin sekedar pengakuan saja. Tidak menuntut lebih.

Tindakan itu kulakukan, semata tidak ingin ngumpet pada hubungan kami. Aku ingin seperti rumahtangga lain diketahui pernikahanku. Termasuk diketahui Lastri, yang kemudian aku datang menemuinya tanpa diketahui Dimas.

Sudah kutebak Dimas akan marah. Namun tidak kusangka kemarahannya sangat luar biasa. Seakan kepala rajanya iblis ada dalam kemarahannya.

Dia tinggalkan rumah sambil melemparkan surat ke ranjang kami. Tertulis dalam isi surat posisi tugasnya dipindahkan ke pos lain. Pos yang tidak memiliki gengsi dan kedudukan terhormat sebagai pejabat Negara.

Aku tidak peduli dengan kemarahannya. Kuyakinkan paling hanya sesaat. Setelah reda marahnya, dan dia mampu selesaikan urusan dengan Lastri, akan kembali dalam pelukanku.

Ternyata tebakanku jauh meleset. Bahkan jauh dari perkiraan. Diluar dugaan, justru caraku menjadi boomerang.

Suatu hari polisi datang ke rumah. Sambil membawa surat penangkapan dengan tuduhan melakukan penipuan. Aku dianggap menggunakan ilmu pelet pada pernikahanku dengan Dimas.

Dua temanku menjadi saksi mengakui perbuatanku. Dukun yang ku minta tolong juga berterus terang. Begitu juga bukti lain yang didapatkan polisi saat menggeledah rumahku. Dan semua kesaksian dan bukti itu memang benar.

Pikiranku buntu. Mohon diantara pembaca dapat memberi saran, agar aku mampu kuat menghadapi kenyataan ini.

 

Kisah diceritakan Debi, di Jakarta.

( WA: 085246776009 )