Oh suamiku lebay dengan banyak tuntutan

Cerai keputusan diambil Wanda dalam keadaan hamil 6 bulan. Siksa batin dari Andi, membuatnya tidak ingin melanjutkan rumahtangga. Suaminya dianggap Wanda sebagai monster. Siap menerkam diri dan keluarganya.

Aku sudah tidak nyaman. Ketakutan hampir tiap hari dirasakan. Ada tidak ada Andi disampingku. Selalu muncul kata kata menyakitkan hati. Kalau kulawan justru marahnya mengancam mempermalukan keluargaku.

Bingung aku pada caranya berpikir. Apa hubungannya masalah rumahtangga, sampai bawa-bawa mempermalukan keluargaku. Andai mempermalukanku tentu akan kulawan. Mati pun aku sudah siap.

Sipat Andi baru kuketahui setelah menikah. Sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Karena kemampuan membungkusnya dengan kata-kata lembut. Sehingga membuatku mau menikah dengannya.

Jujur nuraniku pernah bicara tidak percaya dengannya. Hati kecilku yakin saat itu, dia bukan calon suami mampu mengantarkanku bahagia dunia akherat. Ternyata feelingku tepat.

Semua sudah terjadi. Aku sudah menjadi istrinya. Pernikahan sudah terlaksana. Janur kuning sudah lama mongering dibuang.

Seandainya aku kuat pendirian, tidak termakan ucapan teman dan lingkungan terdekatku, mungkin tidak seperti ini nasibku.

Mereka mengarahkanku untuk menerima Andi sebaga suami. Aku selalu diyakinkan, kalau Andi pria tepat sebagai suami. Mampu memanjakan dan membahagiakan ku setelah menjadi suami.

Kenyataannya bertolak belakang. Setelah menjadi istrinya, semua hanya mimpi di siang bolong. Tidak ada lagi limpahan materi ku dapat seperti semasa pacaran. Tidak ada kata-kata lembut, kata kata mesra yang membuatku terbuai olehnya.

Aku terjebak dengan pernikahan mengerikan ini. Saking ngerinya membuatku takut bertemu dengannya. Engan tinggal bersamanya.

Tidak kusangka perjalanan hidupku seperti ini.

Karena tuntutan

Satu bulan setelah menikah, mulailah hari-hari siksa batin kualami. Andi memperlakukanku seperti binatang. Harga diriku sebagai istri Nol besar dimatanya.

Aku tidak tahu penyebabnya. Apakah mungkin karena tuntutanku membuatnya seperti itu. Bicaranya sangat kasar setiap kutanya janjinya. Saking kasarnya sudah tidak pakai logika meluapkan marahnya.

Contohnya seperti ingin mempermalukan keluargaku. Atau menuntut terlalu berlebihan jika tidak dianggap lebay. Misalnya aku diminta tidak bergaul dengan siapapun, cukup di rumah saja menunggu dirinya pulang kerja.

Rasanya wajar aku menuntut segala apa yang pernah dikatakannya. Dia janji sendiri. Dengan mudahnya dikatakan, akan segera membelikan mobil setelah jadi istrinya. Akan segera belikan rumah. Membiayai kehidupanku diatas penghasilanku bekerja sebagai model.

Aku dilarang bekerja. Alasannya dia mampu membiayai kehidupanku. Aku pikir mendapat uang banyak. Jadi bisa mengirim sebagian rejeki pada keluargaku yang susah perekonomiannya.

Selama ini keluargaku tidak lepas dari rejeki yang kuperoleh. Tapi dari pemberian Andi, mana mungkin aku bisa kirim. Buat keperluan pribadiku saja kurang.

Janji janji lainnya tidak kunjung terbukti. Jujur aku tergoda saat masih berstatus pacar. Dengan pamer Andi melihatkan duitnya. Seakan dirinya orang kaya, dan mudah mendapatkan uang setiap hari dari bisnisnya sebagai pengusaha batubara.

Jadi uangnya pun terkesan tidak berseri. Kayak sinterklas tiap hari uang puluhan juta ‘dibuang’. Kongkow di diskotik dengan teman-temannya, mentransfer puluhan juta ke teman dengan mudahnya, memberi aku uang jutaan tiap hari sebagai uang jajan, dan langsung mentransfer uang tiap kumintaa setiap saat meski 5 kali dalam sehari.

Aku tidak mengerti apalagi salahku ? Sebagai istri siri, aku berupaya menyembunyikan hal sebenarnya dari keluargaku. Kalau Andi telah berbohong, kalau istrinya yang berada diluar kota telah ijinkan dia menikah denganku.

Istrinya itu tidak tahu apa-apa. Kalaupun tahu tidak mungkin mau di poligami. Karena siapapun wanitanya tidak mau suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Termasuk aku.

Pernah terpikir ingin bunuh diri bersama calon bayi dalam rahim. Walau akhirnya kupilih cerai saja sebagai jalan terbaik. Aku yakin mampu cerai darinya bisa menghidupi diri sendiri, dan anakku kelak.

Mungkin ada saran pembaca untukku ?

Kisah diceritakan Wanda, di Bandung.

(WA: 085246776009)