Anakku lupakan orangtua

Salah asuh. Mungkin tepat kukatakan pada Taufik, anak semata wayang kami. Dia lupakan orangtuanya. Seolah kehadirannya di dunia begitu saja, tanpa perantara kami. Aku begitu sakit hati.

Tak kusangka cobaan hidup ini begitu berat. Bukan karena materi. Bukan karena kesendirianku di usia jelang kubur. Namun akibat prilaku anak yang kami rawat dan besarkan selama ini.

Dia tidak menggubris sama sekali kami selaku orangtuanya. Tak terbayangkan dalam hatiku. Perubahan 360 derajat terjadi pada Taufik. Sampai istriku meninggal tidak diketahuinya. Bahkan tidak mengunjungi makam ibunya.

Sakit hatiku teramat sangat. Teramat menyiksa batinku. Sampai akhirnya aku putuskan meninggalkan Ungaran, demi melupakan semua kenangan yang ada. Pernah memiliki anak bernama Taufik. Pernah hidup dan tinggal di kota kecil Jawa Tengah.

Aku hijrah ke Bekasi. Mengais rejeki sebagai pemulung. Pekerjaan ini telah kugeluti selama 21 tahun. Dari penghasilan yang kudapatkan hanya sekedar bertahan hidup.

Hidupku sendiri di Bekasi. Tinggal di sembarang tempat, sesaat melepas lelah. Kadang di kolong bawah jembatan. Kadang diemper toko. Dimana saja bila capek terasa perlu istirahat. Untuk mandi sebisanya kalau ada kamar mandi umum.

Pernah terlintas keinginan bunuh diri. Namun niat itu kuurungkan. Biarlah akhir hidupku ini, mati dengan cara wajar. Dikubur dimana saja oleh mereka yang nanti melihat jasadku.

Tinggalkan rumah sebelum sholat

Aku tidak tahu apa salah besar kami sebagai orangtua. Sampai dia seperti hilang di telan bumi, sejak meninggalkan rumah di usianya 12 tahun.Tidak ada kabar berita sama sekali.

Sehari sebelum kepergiannya itu, ibunya memang sempat marah. Lalu menuduh Taufik mengambil uang 20 ribu dari dompetnya. Diakui Taufik perbuatannya itu buat jajan.

Tidak ada masalah lagi setelah kejadian itu. Semua berjalan normal. Ibunya juga kembali seperti biasanya. Melayani Taufik seperti biasanya.

Namun dua hari kemudian, ada kertas kecil di meja makan. Taufik menulis permohonan maaf pada kami, karena dianggapnya sebagai anak yang menyusahkan orangtua selama ini.

Sepertinya Taufik merencanakan kepergiannya itu. Sebelum kami bangun sholat shubuh, dia tidak ada di kamar. Ibunya terkejut saat ingin membangunkannya, Taufik tidak ada di kamar.

Rina istriku menangis. Wanita bertubuh ringkih yang selama ini turut membantu ekonomi keluarga, menyalahkan dirinya membuat Taufik pergi dari rumah.

Upayaku mencarinya sia-sia. Banyak temannya tidak tahu keberadaan Taufik. Setidaknya mengetahui kemungkinan Taufik tinggal sementara. Mereka juga tidak dititipkan pesan apapun dari Taufik.

Hari berganti bulan tidak terasa telah setahun Taufik diketahui rimbanya. Berbagai cara telah diusahakan. Pikiran negatip kadang membuat kami berprasangka buruk. Hanya doa kami panjatkan setiap sholat. Agar Taufik sehat dan akan bertemu kami kembali.

Meski aktifitas kami berjalan normal, namun istriku selalu sedih mengingatnya. Terbayang olehnya kebiasaan Taufik membantunya jualan sayuran dan bumbu dapur di depan rumah. Sedangkan aku bekerja sebagai tukang ojek.

Di lemah abang

Tiba waktunya takdir berkehendak pada Rina. Dia meninggal dalam tidur. Saya tahu saat terbangun pagi, melihat tubuhnya sudah dingin dan kaku. Tetangga mengatakan terkena serangan jantung. Buat saya bukan itu. Rina terlalu berat memikirkan Taufik.

Aku berharap meninggalnya Rina didengar Taufik. Siapa tahu diantara temannya memberitahu berita duka ini. Namun sampai dimakamkan di malam hari, sosok Taufik tidak terlihat diantara pelayat.

Kini kusendiri tinggal di rumah. Istri meninggal, anak tidak tahu keberadaannya. Sampai aku engan keluar rumah. Sesekali cari uang mangkal di pos ojek. Sudah dapat cukup buat makan pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya.

Tiga tahun berlalu tanpa terasa. Sampai akhirnya aku putuskan jual rumah dan motor butut pada tetangga. Alasanku buat modal pegangan mencari kehidupan di Bekasi. Padahal aku jual rumah, karena ingin melupakan semua kenangan.

Tadinya sempat setahun tinggal di Jakarta. Namun perjuangan hidup di ibukota jauh lebih berat. Setelah pindah ke Bekasi agak lebih lumayan. Sebagai pemulung masih mampu aku bertahan sampai saat ini.

Dua puluh satu tahun sebagai pemulung. Tambah tiga tahun saat aku tinggalkan di Ungaran sejak Taufik di usia 12 tahun tinggalkan rumah. Jadi usia anakku kini 37 tahun, jika masih hidup.

Ternyata Taufik masih hidup. Persisnya saat aku melintas di sebuah rumah kecil kawasan lemah abang cikarang. Aku sangat yakin Taufik. Dan teramat yakin kalau orang yang kulihat adalah anak kami.

Wajahnya tidak ada perubahan. Hanya lebih bersih kini terlihat. Secara kebetulan saat aku melintas depan rumahnya, Taufik sedang mengeluarkan motor dari pagar besi rumah.

Aku terkejut. Karena kuyakinkan itu Taufik. Semua mengarah pada dirinya. Dan lebih menguatkan ada tanda lahir di jari kelingking tangan kirinya.

Begitupun tidak ingin kusapa. Masih membekas kecewaku pada Taufik. Meski disisi lain ada kerinduan memeluknya.

Salahkah aku ?

 

Kisah diceritakan Suratman, di Bekasi.

(WA: 085246776009)