Berbagi tiga suami

Mungkin kisahku ini tak lajim, dan tak pantas dilakukan kaum istri. Namun kenyataan jalan hidup inilah yang kulalui. Sepuluh tahun lebih telah kulewati, kebersamaanku dengan tiga suami. Tanpa mereka tahu aku berbagi cinta.

Suratan hidup. Mungkin ini garis hidupku. Tidak ada dalam keluarga besar, baik dari keluarga pihak ibu dan bapak, menjalani hal yang kujalani saat ini. Apalagi itu sangat tabu buat kami dari keturunan Sumatra.

Aku tidak mampu mengelak dari kenyataan ini. Karena memang jalannya seperti air mengalir, yang dapat melewati celah-celah semen sedemikian baiknya.

Itulah yang terjadi pada diriku. Saat bertemu dengan suami kedua dan ketiga, statusku masih menjadi istri Iwan, dan telah memiliki dua anak. Dari dua perkawinanku itu dilakukan dengan cara nikah siri. Sementara dengan Iwan nikah resmi tercatat KUA.

Dalam seminggu ketiga suami mendapat jatah perhatianku. Baik melayani kebutuhan di tempat tidur, maupun perhatian lain layaknya sebagai istri.

Ada baiknya kuceritakan dari awal kisahku ini. Agar pembaca tahu runtutannya. Sekaligus memaklumi kenapa akhirnya aku memiliki tiga suami.

Karena hinaan itu

Pertengkaran dan penghinaan Iwan padaku, menjadi jalan masukku menikah dengan suami kedua. Sementara kesuksesanku berbisnis, menjadi pintu masukku menikah siri dengan Ronald, suami ketiga.

Andaikata tidak ada penghinaan dari Iwan, yang membuatku sangat terhina, rasanya tidak terjadi pertemuanku dengan Rudi, suami kedua. Karena penghinaan luar biasa itu, menjadikanku berontak sebagai ibu rumahtangga. Selama ini, aku disibukkan mengurus rumahtangga, dan kedua anakku.

Karena hinaan itu, membuatku terlecut mengais rejeki diluar rumah. Masih membekas ucapan Iwan, kalau aku dianggapnya istri tak berguna. Hanya menghabiskan uang gajian suami.

Padahal kulakukan uang gaji Iwan yang tidak seberapa untuk kepentingan rumahtangga. Tiga setengah juta gajinya sebagai pegawai pabrik. Tidak akan mencukupi tinggal di Jakarta. Baik buat makan, bayar kontrakan perbulan, cicilan motor, pegangan uang tiap hari Iwan tiap berangkat kerja, jajan anak, listrik, lain-lainnya.

Puncaknya usai ribut dengan Iwan, aku membawa kedua anakku dititipkan pada orangtua di Kerawang. Kuceritakan semua deritaku pada ibu. Sedang ayahku sudah meninggal.

Seminggu aku dirumah ibu. Iwan tidak ada itikadnya datang melihat istri dan kedua anaknya. Terpikir olehku keseriusan Iwan bilang, jika aku keluar rumah maka cerai. Ucapan cerai itu membuatku merasa sudah tidak lagi menjadi istrinya.

Ibu hanya pasrah jika aku cerai dari Iwan. Terlihat rona marah wajah ibu, Iwan mampu mengucap kata cerai. Padahal dulu ibu begitu sayang pada Iwan, semasa kami masih pacaran lalu menikah.

Dewa Penolong

Bertemu Rudi membuatku tergiring larut dengan kehidupannya. Sejak sebulan Iwan tidak datang ke rumah, aku ikut bantu teman di bisnis event organizer. Pekerjaan itu membuatku bergaul dengan banyak orang. Salah satunya Rudi, pemilik usaha garmen.

Rudi penggemar kehidupan malam. Kerap aku dimintanya datang ke club malam daerah glodok. Semua itu kulakukan demi menjaga hubungan kerja.

Hubunganku dengan Rudi sebatas teman. Terlebih dirinya sering menjadi sponsor di tiap acara yang kami adakan. Rudi juga sering memberikan pekerjaan untukku secara pribadi diluar itu.

Rudi hanya tahu kalau aku sudah pisah dari Iwan. Pernah dia datang ke rumah orangtua, oleh ibuku diceritakan hal sama rencana cerai yang akan kulakukan pada Iwan.

Suatu malam di club malam tempat kami nongkrong. Aku dikejutkan dengan ciuman hangat Rudi. Saat duduk berdampingan dengannya, Rudi menatap lembut, lalu seperti digerakkan magnet, kami berciuman cukup lama.

Sejak itu saya dengannya merasa diri sudah menjadi pacar. Aku pun tidak menyoalkan Rudi yang telah memiliki istri dan anak.

Seiring dengan karirku meranjak naik, enam bulan kemudian kami menikah siri. Sengaja orangtuaku tidak kuberitahu, begitu juga dengan Rudi. Kami menikah tanpa diketahui oleh keluarga.

Rudi tidak membatasi karir dan pekerjaanku. Aku juga tidak membatasinya pulang ke rumah. Pertemuan kami dilakukan minimal seminggu sekali. Kita melakukannya kalau tidak di hotel atau keluar kota. Tidak mau Rudi melakukannya di tempat kostku.

Dia mensupport keberhasilanku seperti saat ini. Itulah salah satu alasanku mau nikah siri dengannya. Dia bagai dewa penolongku. Sehingga sukses cepat kuraih dalam sekejap.

Bagi waktu

Rumahtanggaku dengan Iwan belum berakhir cerai. Komunikasi masih berjalan meski kurang baik. Meski kami pisah tempat tinggal, namun Iwan rutin transfer uang bulanan buat anak-anak.

Sesungguhnya aku masih mencintai Iwan. Kedua anakku menjadi pertimbangan, saat kembali tinggal dengannya. Iwan mengemis menjemputku dan anak-anak.

Iwan pun tidak memaksa kehendaknya lagi. Pembantu harian kusiapkan sambil menunggu Iwan pulang kerja.

Aku tidak dilarangnya kerja. Ibaratnya sesuka aku pulang tidak membuatnya masalah. Meski sebulan sekalipun. Dengan alasan banyak pekerjaan pada Iwan, membuatku bisa membagi perhatian pada Rudi. Aku tidak ingin membuat Rudi curiga.

Sampai akhirnya sosok Ronald mencuri imajinasi percintaanku. Ronald lebih muda, beda usia 5 tahun. Aku menemukan kegairahan pada pria daerah itu, Ia tinggal di Riau.

Ronald sepertinya tertarik denganku. Aku dapat merasakan meski dirinya berupaya menutupi. Mungkin dia sadar kalau posisinya sebagai mitra kerja dibawahku.

Suatu saat iseng kulontarkan canda pada Ronald. Aku bilang kalau pria normal bisa menikah hari ini. Dia langsung menjawab candaku itu. Bahwa dia siap menikah hari ini asal aku menjadi istrinya.

Tentu saja aku kaget dengan keberaniannya. Sesuatu yang tidak kusangka sebelumnya. Kusambut ajakannya itu. Dengan catatan kuminta darinya, tidak perlu pindah Jakarta. Cukup diantara kita menyempatkan waktu bertemu di Jakarta atau Riau.

Setelah menikah siri dengan Ronald, Aku pintar pintar membagi waktu. Kesibukan ku bekerja menjadi alasan membuat ketiga suamiku tidak curiga, saat diriku tinggal bersama dengan salah satu suami.

Ronald hanya tahu aku janda dua anak. Dia tidak tahu pernikahan siri ku dengan Iwan. Iwan hanya tahu aku sibuk dengan berbagai urusan, dan tidak mengekang aktifitasku. Sedangkan Iwan pasrah pada waktuku seminggu sekali tinggal bersamanya.

 

Kisah ini diceritakan Rita (nama samaran), di Jakarta.

(WA: 085246776009)