Terbelengu kebingungan ego

Begitu tulus keinginannya menikahiku. Bahkan permintaanku dipenuhinya dengan menghadirkan istrinya menemuiku, sekaligus meminangku untuk menjadi istri Rahmat, pengusaha kaya raya dan namanya sangat dikenal di Indonesia.

Ku menyebutnya dengan nama Rahmat. Itu nama samarannya. Mungkin kalau nama sebenarnya diungkapkan, bakal menjadi viral mayarakat Indonesia. Karena sosok pria ini, sangat dikenal dan pernah menduduki jabatan strategis di era dua Presiden Indonesia..

Jujur kukatakan, batin ini ingin menerima dia sebagai calon suamiku. Menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Namun di sisi lain, ego ku menolak. Karena khawatir orang lain termasuk lingkungan teman ku beranggapan, bahwa hartanya yang membuatku mau menjadi istrinya.

Oh Tuhan, Aku bukan tipe wanita demikiaan. Aku bukan wanita yang mungkin dinilai seperti itu. Aku adalah aku, yang selama ini mampu mandiri dan membesarkan Riko, anak semata wayang dari pernikahan dengan Yoga.

Rasanya kisah mirip seperti ini ada dialami wanita lain. Namun kisahku mungkin  lebih istimewa. Karena aku tadinya tidak sedikitpun tertarik dengannya.

Bahkan jujur kukatakan, pernah memakinya dengan kasar, sebagai penolakan didekatinya. Tindakan itu kulakukan dengan sengaja.

Bukan aku trauma dengan pria, karena mungkin ada anggapan pernah bercerai, Karena setelah bercerai dengan ayahnya Riko, pernah aku menjalani hubungan dan hidup bersama 6 bulan dengan dokter muda, yang juga anak pengusaha ternama.

Setelah putus dengan pacar, aku sudah niatkan focus pada pekerjaan. Usaha yang kurintis dari nol besar, sampai akhirnya mampu membayar gaji puluhan pegawai, termasuk menyantuni ratusan anak yatim lewat yayasan milik perusahaanku.

Pada akhirnya aku tidak kuasa pada ketulusan Rahmat, menginginkan menjadi istrinya. Perhatian yang ditunjukkannya tanpa pamrih, lambat laun membuatku tumbuh perasaan.

Dia begitu serius. Sampai permintaanku untuk bertemu istrinya, disanggupi hanya sehari kemudian. Dikatakan ibu empat anak itu, kalau dirinya ikhas dan suka cita jika, jika aku segera menjadi istri Rahmat.

Padahal tidak ada masalah dalam pernikahan Rahmat dengan istrinya. Setelah kutelusuri, keinginan Rahmat menikah lagi karena semata ibadah. Dan istrinya sangat mendukungnya.

Saat ini kami tengah menjalani hubungan. Namun hubungan masih dalam tarap wajar. Tidak lebih dari itu. Boleh dikatakan lebih pada komunikasi. Kalaupun bertemu secara fisik, privat makan di restoran, lalu pulang ke rumah masing-masing.

Dengan kisahku ini, aku berharap ada saran dari pembaca.

 

Diceritakan oleh Angelia, di Jakarta.

(WA 085246776009)