Kenangan sang anak pada Zaini sebelum di eksekusi pancung

Thoriq (pegang HP) dengan Mustofa (adik)

Madura – Terlalu banyak kenangan indah dirasakan Thorig (26), pada sosok sang ayah yang dihukum pancung di Arab Saudi. Zaini Misrin alias Slamet (28) telah menjalani eksekusi pada 18 maret lalu. Ayah dua anak itu dianggap telah membunuh majikannya Abdullah bin Umar Muhammad Al Sindy pada tahun 2004.

Salah satu kenangan indah yang diwujudkan almarhum, berupa toko kecil sebelah rumah di tanah kelahirannya, Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Madura. Pada usaha yang dibangun 2011, Zaini berkeinginan untuk tidak lagi menjadi TKI.

“Bapak (Zaini) sejak muda pekerja keras. Keinginannya membahagiakan keluarga sangat besar. Sebelum menjadi TKI, bapak pernah menjadi supir angkutan umum disini (Bangkalan). Saya ingat waktu itu usia saya 11 tahun, bapak bekerja siang malam mencari rejeki di jalan. Namun penghasilan yang diperolehnya sebagai supir sangat kurang mencukupi kebutuhan. Akhirnya bapak memutuskan menjadi TKI,” papar Thorig.

Teringat Thorig saat meninggalkan kampung halaman, almarhum janji hanya sesaat bekerja di Arab. Asal cukup memperoleh uang, Zaini nanti ingin selamanya tinggal di Bangkalan membuka usaha.

Janji itu dibuktikan Zaini. Setelah berangkat ke Arab di tahun 2011, Zaini membawa rejekinya sebagai supir dengan membuka usaha warung sebelah rumah. Namun usaha yang dirintisnya kekurangan modal. Sehingga menjadikan Zaini kembali ke Arab di tahun 2013.

“Kurang setahun ada kabar kalau bapak di penjara pemerintah Arab. Keluarga kami disini sangat khawatir. Apalagi ancaman hukumannya sangat berat. Namun bapak berusaha membesarkan semangat kami, kalau tuduhan pembunuhan itu bukan dilakukannya,” kenang Thorig.

Thorig memperoleh informasi dari berbagai sumber, ancaman hukuman kasus pembunuhan di Arab jarang selamat dari eksekusi pancung. Karena tergantung dari keluarga korban mau tidaknya memaafkan pelaku.

“Upaya hokum terus dilakukan bapak dan pihak KJRI di Arab. Beberapa kali saya sempat menemui bapak di Penjara. Bahkan terakhir dua bulan sebelum bapak di eksekusi pancung, wajah bapak tetap tenang dan berusaha meyakinkan saya, kalau almarhum tidak bersalah, dan tidak membunuh majikannya,” jelas Thorig.

Dalam pertemuan terakhirnya itu, Thorig melihat wajah ayahnya bersih. Dan menitipkan berbagai pesan, serta uang jika dinilai rupiah sebesar 18 juta rupiah untuk kembali membuka toko.

“Meski dalam penjara, bapak tetap berusaha mendapatkan uang sebagai tukang cukur. Banyak teman di penjara sayang pada bapak. Almarhum juga menjaga sholatnya. Bapak pesan agar kami menjaga dan merawat Umi,” ucap Thorig berkata pelan menahan tangis melihat ibunya, Naimah.

 

(*Faturohman)