Sri berhasil ungkap pelaku pacul leher suaminya

Sri bersama almarhum Restu

BatangSri Hartini teringat saat Restu Novianto (37) pamit meninggalkan rumah. Ayah dua anak itu menyebut nama Muslimin (45) sebagai rencana tujuan. Dengan menggunakan motor Honda Beat No G 5400 GV, Sri gelisah sang suami tidak kembali pulang ke rumah.

Kenangan itu terjadi 15 November lalu. Masih terbayang di pikiran Sri, saat Restu meninggalkan rumah. Karena ingin menangih janji Muslimin yang konon mampu melipat gandakan uang.

“Saya tidak tahu berapa uang mas Restu ke dia (Muslimin). Saya hanya tahu alamat yang dituju almarhum suami saja,” kenang Sri, warga Desa Plelen RT 03/RW 03, Kecamatan Gringsing Batang, Jawa Tengah.

Aril dipatok ular sendirian di rumah

Berbekal alamat dimaksud, Sri mencoba mencari keberadaan Restu esok harinya. Namun tidak berhasil ditemukan. Sehingga Sri melaporkan kehilangan Restu di Polres Batang, Jawa Tengah.

Akhirnya dari penyelusuran motor yang dipakai Muslimin setelah diganti plat nomernya, terungkap pengakuan mengejutkan. Restu sudah dibunuh dan mayatnya di kubur dibawah pohon sengon oleh Muslimin.

Seperti ramai diberitakan, Restu Sinaga dibunuh secara keji Muslimin saat menagih uang yang digandakan. Muslimin jengkel ditagih oleh Restu. Sampai akhirnya pelaku membuat strategi, mengajak korbannya menggali lobang sedalam dua meter.

Lalu korban diminta lakukan ritual semedi. Saat khusus lakukan semedi itulah, Muslimin memukul leher Restu dengan gagang pacul, yang sebelumnya digunakan membuat lobang, yang kemudian mayat Restu dikuburkan.

Mayat restu saat digali setelah 27 hari dikubur

Bukan hanya Restu saja ternyata menjadi korbannya Muslimin. Saat polres Batang membongkar makan Restu pada 12 desember lalu, ada dua mayat di lobang lain yang ditanam. Salah satu korbannya sudah jadi kerangka

“Saya harap harap cemas. Pernah saya mimpi mas Restu,” tangis Sri cukup lama.

Tindakan sadis Muslimin pada Restu begitu membekas dalam pikiran Sri. Terlebih setelah itu Restu dikuburkan dalam keadaan pingsan.

“Begitu tersiksanya almarhum diperlakukan orang itu. Saya berharap dituntut hukuman mati saja,” marah Sri.

 

(*Arman)