Penyesalan Dwi berkepanjangan usai bunuh ibu kandung sendiri

Aman Dwi Prayogi

Malang – Dijerat hukuman mati dan atau penjara 20 tahun, sesuai pasal 340 KHUP sub Pasal 338 oleh Polres Malang, Aman Dwi Prayogi (20) hanya bisa pasrah. Anak kedua dari tiga bersaudara ini, tengah menanti jadwal sidangnya.

Dwi, salah satu penghuni lapas kelas 1 Lowokwaru Malang, menjadi buah bibir tahanan lainnya. Apalagi kasusnya begitu menyita warga Malang, dan juga berita nasional beberapa bulan lalu. Yakni anak bunuh ibu kandung sendiri, gara-gara minta helm tidak dituruti korban.

Seorang diri melakukan aksi sadisnya, saat Suyati (42) tengah tertidur di kamar. Kecewa dan jengkel teramat sangat pada Suyati, lantaran Dwi merasa ibunya pilih kasih, membuat Dwi gelap mata melayangkan talenan kayu di kepala sang ibu tengah tertidur pulas.

Akibatnya Suyati meninggal. Bantal berlumuran darah, akibat tempurung kepala korban pecah, justru tidak membuat Dwi kehabisan cara menyiksa. Ia pun merekayasa kematian Suyati seolah bunuh diri. Dengan cara mengikat leher korban dengan kawat seling motor.

Ridwan bunuh pacar baru dikenal

Nathalie Holscher lebih peduli setelah mama meninggal

Namun upayanya membuat alibi pada polisi dan keluarga tidak berhasil. Dalam pengakuannya, Dwi berterus terang melakukan aksi kejinya itu jam dua dinihari (27/9), setelah bolak balik ke kamar tidur ibunya sebanyak tiga kali, di jalan Indrokillo Selatan, kecamatan Lawang, Malang (Jawa Timur)

“Saya lakukan spontan. Malam itu, saya begitu marah sama ibu. Ingat perlakuannya membedakan perlakuan. Kalau kakak adik minta langsung ditururi, beda kalau saya minta ada saja diundur,”  kenang Dwi beberapa jam sebelum kejadian di malam itu pulang ke rumah usai menenggak minuman keras.

Begitupun Dwi kini sangat menyesal dengan perbuatannya itu. Terlepas dijatuhi hukuman mati atau penjara, dirinya telah siap menjalaninya.

“Saya hanya bisa pasrah,” ujar Dwi yang hanya tamat SMP saja.

Selama menjalani masa tahanan, Dwi berupaya mendoakan ibunya. Kadang dalam tidur diakui Dwi, dimimpikan bertemu dengan korban dengan wajah sedih.

 

(* Ragil Ramadhan)