Penyesalan Neuis pada hobi anak bungsunya dipatok ular cobra peliharaan

Neuis bersama ketua RW komplek rumahnya

Bandung – Duka mendalam terlihat pada Neuis Marpuah, ibu empat anak. Anak bungsunya bernama Syahril Sultan Nashir (14), meninggal usai dipatok ular peliharaannya di garasi rumah, Komplek Griya Bandung Asri 1 Bojongsoang Bandung.

Kekhawatiran pada hobi Aril – sapa akrab siswa kelas 3 Tsanawiyah di pesantren Ciganitri, telah dirasakan sejak anak bungsunya mulai tertarik pelihara ular berbisa. Karena sebelumnya Aril hanya pelihara ular biasa (tidak berbisa).

“Berbeda dengan ketiga kakaknya, sejak kecil Aril senang dengan binatang. Dulunya koleksi ikan. Burung merpat, sampai Musang. Baru setelah itu suka dengan ular,” kenang Neuis.

Waktu itu, ular yang dipelihara Aril lebih panjang dari ular yang kini mematok lengan kirinya almarhum. Yakni sama-sama jenis ular King Cobra, sebelumnya berukuran 3 meter, sementara ular yang menyerangnya itu berukuran 2.8 meter.

“Ular yang 3 meter telah dijualnya melalui facebook, setelah ada larangan dari ayahnya pelihara ular. Dijualnya juga gara gara ada artis yang meninggal dipatok ular. Tapi setelah itu, Aril membeli ular lagi,” papar wanita berprofesi sebagai dosen.

Neuis masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Aril, yang pulang ke rumah karena libur sekolah. Senin pagi (11/12), Neuis tidak memiliki firasat saat berangkat kerja, meninggalkan Aril sendiri di rumah. Sementara anak ke2 dan ke3 sudah berangkat sekolah dan kuliah. Sedangkan anak tertua sudah bekerja dan tinggal di Jakarta. Dan suami Neuis tengah berada di New Zealand, bekerja di kapal pesiar.

“Tidak ada firasat. Seperti hari – hari biasanya, hanya mengingatkan Aril tetap waspada dengan ularnya. Anak saya sejak kecil tidak takut dengan ular. Pernah ular dibawa masuk dan tidur dengannya di kamar. Sampai ayahnya khawatir, lalu membuat kandang ular dihalaman rumah,” ujar Neuis.

Neuis terkejut saat diberitahu Aril dilarikan ke rumah sakit Al Ihsan. Dikatakan temannya Aril, bahwa Aril digigit ular saat bermain dengan binatang reptil itu di garaasi rumah.

“Aril sempat mendapat pertolongan, setelah dibawa ke rumah sakit jam 11 siang. Saat saya menemuinya, Aril sedang ditangani dokter di ICU. Namun anak saya meninggal jam 10 malam,” sedih Neuis.

Neuis menyesalkan dirinya. Bahkan Neuis merasa teledor dan lalai sebagai ibu. Meski di satu sisi, Neuis merasa telah menjadi takdir Aril seperti ini.

 

(* Agung Prakarsa)