Mutilasi lalu bakar mayat istri, Kholil sempat terkejut sendiri

Nindy dan Kholil

Kerawang – Tampan dan gagah. Kesan itu terlihat jelas pada diri Muhamad Kholil, ayah satu anak dari pernikahannya dengan Siti Saidah akrab disapa Nindy (21). Di usianya 21 tahun, Kholil kini meringkuk dalam tahanan Polres Kerawang. Aksi sadisnya membunuh lalu memutilasi kemudian membakar jasad Nindy, membuat pelaku tamatan SMP di Bogor ini diancam hukuman seumur hidup.

Terlihat dalam sel tahanan, Kholil berbaur dengan pelaku kasus kriminal lainnya. Ia duduk di pojok. Diam mematung. Seakan melamun peristiwa 4 desember lalu, di rumah kontrakannya, dusun Sukamulya, Pinayungan, Teluk Jambe Timur, Karawang.

Di rumah kost yang hanya ditempatinya berdua dengan Nindy selama ini, Kholil tidak mampu meluapkan emosinya saat cekcok rumahtangga terjadi. Pertengkarannya dengan sang istri, berakhir dengan kematian korban.

Kholil dan Nindy

Menikah di usia 19 tahun, diakui Kholil saat ditanya petugas, karena permintaan Nindy. Kholil mengakui langsung jatuh cinta pertama kali berkenalan dengan korban, meski waktu itu Nindy masih bekerja di cafe sebagai pemandu lagu.

“Dia menerima saya apa adanya. Sejak awal sudah tahu pekerjaan saya sebagai OB (office boy). Saat diajaknya menikah saya sanggupi,” jelas Kholil.

Diakui pria tamat SMP ini, dirinya sengaja tidak melanjutkan ke sekolah lanjutan. Kholil berpikir saat itu ingin mencari uang. Ia pun pamit pada orangtua, hijrah dari tempat tinggal masa kecilnya di Kampung Mekarjaya, Desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

Nindy dan Kholil

“Saya langsung ke kerawang. Lalu kenal dengan Nindy berawal dari Facebook. Kemudian menikah setelah dua tahun pacaran,” ujar Kholil.

Masa pacaran diakui Kholil penuh dengan kebahagiaan. Terlebih korban sosok istri yang tidak menuntut. Bahkan setelah buah cinta lahir 13 bulan lalu, Kholil melihat Nindy tidak keberatan sang anak yang diberi nama Arfi Adam Lalana, dititipkan dan dirawat oleh orangtua Kholil. Kesibukan bekerja mereka berdua sebagai alasan anak dititipkan pada orangtua Kholil.

Pekerjaan Nindy sebagai sales perumahan di Cikarang, membuatnya tidak mampu mengurus anak. Sementara Kholil tidak melarang istri tetap bekerja, karena kondisi keuangan tidak mampu dipikulnya sendiri.

nindy

Kholil merasakan perubahan pada Nindy beberapa bulan terakhir. Pria pendiam dan berwajah teduh ini, mengaku selama ini selalu mengalah setiap kali terjadi cekcok rumahtangga.

Sampai akhirnya Kholil mengaku tidak mampu menahan emosi, setelah tuntutan korban dianggap sudah keterlaluan. Terutama keinginan almarhum memiliki mobil dengan menjual motor.

“Saya replek memukul bagian lehernya. Lalu dia terjatuh, dan saat itu saya merasakan napasnya berhenti. Saya bingung. Hanya terpikir seketika mengamankan mayatnya,” Kholil bersuara lirih.

Kholil sempat ragu dengan pikirannya memutilasi jenazah Nindy. Ia pun keluar kamar sejenak. Namun dorongan memutilasi Nindy kembali muncul. Bahkan begitu kuat dirasakannya segera dilakukan.

Bahkan saat mutilasi dilakukan esok harinya, Kholil merasa kenekatan perbuatan itu sempat membuatnya terkejut sendiri. Dan melihat potongan tubuh Nindy sudah terpisah dari tubuh.

Ia pun membuang potongan tubuh Nindy di dua tempat. Beberapa bagian tubuh korban dibakar terlebih dulu. Namun polisi masih melihat tanda tato di tubuh Nindy, yakni gambar kupu kupu sebagai petunjuk menyelusuri jejak identitas korban.

“Saya selalu gelisah sejak itu. Apalagi ramai diberitakan ditemukan potongan tubuh mayat tidak dikenal. Seketika muncul dalam pikiran, kalau ciri-ciri yang disebut seperti istri saya,” jelas Kholil membuat alibi mengenai kehilangan istrinya selama ini.

Namun keterangan Kholil pada polisi justru menjebaknya. Sehingga polisi menyelidiki dan menggali keterangan Kholil lebih mendalam. Kholil akhirnya mengakui perbuatan yang dilakukannya sendiri.

 

(* Zulham)