Irjen Pol Setyo Wasisto bawa senjata, tangkap pelaku lain pembakaran  Mapolres Dharmasraya

Irjen Pol Setyo Wasisto

Jakarta – Buntut dari dua pelaku tertembak mati pembakaran Mapolres Dharmasraya, Padang, Sumatera Barat, minggu dinihari (12/11), kembali Densus 88 menangkap dua pria lain terkait peristiwa tersebut. Suprapto alias Umar alias Hamzah (27), dan Giovani Rafli alias Gio alias Abdullah alias Gundul (24). Mereka dibekuk di dua tempat terpisah tanpa perlawanan, dalam keadaan hidup.

Suprapto ditangkap di Jalan Lingkar Bandara Sungai Buluh, Kecamatan Rimbo Tengah, Kabupaten Muaro Bungo, Jambi, pada pukul 17.00 (13/11). Sedangkan Giovani ditangkap densus 88, di area parkir samping SMAN 1 Muaro Bungo Jambi, jalan Srisudewi RT 06/ RW 12, Kelurahan Pasir Putih, pukul 09.00 (13/11).

Mereka memiliki peran masing-masing. Seperti Suprapto, kelahiran Aceh, bertindak sebagai perencana, serta menyiapkan kebutuhan untuk melakukan tindakan (teroris). Suprapto menyiapkan tempat, untuk kedua korban melakukan latihan memanah, menembak dengan senapan angin, dan latihan fisik lainnya di perkebunan karet tempat Suprapto bekerja.

Sedangkan Giovani, perannya melakukan motivasi dan membahas rencana lokasi penyerangan, yang akan dilakukan Eka Fitria Akbar (24) dan Enggria Sudarmadi (25). Baik Eka dan Enggria meninggal di lokasi akibat tembakan polisi.

Peran Giovani penting pada aksi yang dilakukan Eka dan Enggria. Karena Giovani memberi pemahaman pada kedua korban berjihad.

Dalam hal ini, kedua pelaku yang ditangkap densus 88 itu, memiliki catatan khusus polisi. Seperti Suprapto, selain menjadi target daftar pencarian orang (DPO) terkait aksi terorisme berjudul di akhir ujung tahun 2015 di Pekanbaru, mengangendakan penyerangan di Mako Brimob Pamenang, Polsek Payakumbuh, dan Polres Darmasraya.

Karena kian marak aksi teroris di kantor polisi, Irjen Pol Setyo Wasisto selaku Kadiv Humas Polri, kini melekatkan senjatanya di pinggang. Selain mengikuti himbauan Kapolri untuk pengamanan, juga berjaga–jaga dari upaya terorir mengincar polisi sebagai sasaran.

“Penyerangankan bisa kapan saja terjadi. Jadi perlu waspada. Buat pengamanan diri saja,” papar Setyo.