Aku mau dibeli dengan uangnya

Sejujurnya tak terbersit pikiran negatip tentangnya. Sosok wanita istri tokoh di kota kelahiranku di Sulawesi. Mungkin ada baiknya tidak dijelaskan lebih spesifik. Karena aku yakin, kalau aku sebut lebih detail bakal banyak yang tahu. Puncaknya pasti gempar.

Aku pun tidak menyangka, wanita yang ku hormati, dan usianya lebih tua dari ibuku, begitu rusak moralnya. Ya aku katakan demikian, karena mudah mengumbar uang demi napsunya ingin memiliki ku.

Sementara  wanita yang selama ini aku sebut dengan Ibu, menggodaku meminta menjadi kekasihnya. Ya Tuhan, aku punya istri di rumah. Istri ku sudah memberiku 5 anak. Tidak sedikit pun ada cacat selama ini pernikahanku dengannya.

Bahkan istriku tidak hanya cantik fisik, juga cantik hatinya. Sering  mengingatku sholat, dan memintaku agar mencari rejeki halal meski sedikit membawa uang pulang ke rumah. Betapa mulia hati istriku.

Namun Aku terkejut permintaan aneh ibu itu. Sebut saja bu War. Aku beri julukan War, karena kata -katanya mengajak perang harga diriku sebagai pria. Seakan ketidakmapananku bisa dibelinya dengan uang.

Seenak dikatakannya padaku, tinggalkan istri mu. Apa yang kamu mau saya penuhi. Rumah mewah, mobil terbaru merk apa saja tinggal kamu pilih. Saya ingin kamu mutlak menjadi kekasihku.

Wow, luar biasa ucapannya. Bahkan dengan tenang dikatakannya, saat aku menyinggung sosok suaminya yang terpandang di kota kelahiranku, “Dia tidak ada apa-apanya. Mudah saya atasi.”

Memang benar ucapannya bu War. Karena sepanjang aku ketahui dari lingkungan kerabatnya, justru bu War yang membiayai selama ini suaminya sampai menjadi orang terpandang, dan tokoh masyarakat disegani. Karena uangnya juga, suami bu War tidak berani berbuat apa-apa pada istrinya. Kasihan. Suaminya hanya menurut dan sabar.

Namun penolakan halusku, membuatnya berang. Membuatnya murka. Bahkan membuatnya emosi tanpa logika. Dengan mudahnya bu War mengarang cerita, seolah aku meminjam uangnya untuk perusahaan yang aku bangun selama ini.

Ia siapkan sejumlah pengacara demi ambisinya itu. Ambisi untuk memasukkan aku ke dalam penjara. Pasal pidana yang digunakan bukan perdata. Aku di ultimatum dalam tempo yang ditentukannya, harus mengembalikan uang yang ditanamnya.

Bu War memang lihai. Menjerat ku seperti ini. Aku pun terjebak oleh caranya, tidak ada saksi saat uang diberikannya waktu itu.

Ku tarik napas dalam-dalam. Meski sesak napasku memikirkan pengembalian uang, yang tidak sedikit nilainya, namun aku pikir jauh lebih baik daripada menuruti keinginannya itu. Keinginan kurang patut pada usia wanita, yang dekat dengan lobang kubur.

Terbayang ucapan istriku saat di meja makan. Karena apapun kedekatanku dengan bu War selalu kujelaskan pada istriku. Walau yang kuceritakan hanya soal pekerjaan. Lebih dari itu, Aku anggap tidak perlu diceritakan. Khawatir membuatnya marah.

Meski hanya sekedar cerita pekerjaan, istriku seperti merasakan firasat buruk tentang hubunganku dengan bu War. Tanpa ekspresi istriku bilang, “Hati-hati Pa, sepertinya dia suka denganmu.”

Sebenarnya aku ingin berkata Iya. Tapi cepat aku cegah  keinginan mulutku berkata jujur. Aku bilang, gaklah Ma, ada-ada saja kamu.”

 

Penulis: DIDI