Pak Dar tukang becak nyentrik ikut kejuaraan atletik di Chili Amerika

Pak Dar

Salatiga – Meski mengauh rejeki dengan becak selama 15 tahun telah digelutinya, namun Pak Dar – panggilan akrab Darmiyanto (82) telah disiapkan Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI) untuk mengikuti event South American Masters Athletics Championships di Santiago, Chile, di bagian Amerika Selatan, pada 22 November 2017. Kejuaraan Internasional ini diadakan untuk atletik berusia lanjut atau veteran.

Pak Dar pun tersenyum di atas becaknya. Mendengar namanya oleh KONI telah disetujui akan diberangkatkan mengikuti turnamen di Chile, bersama atlet veteran lainnya, yakni: Hartini Joko, Julia Yacub, Dedeh Irawati, Suwandi dan Ockben Saor Sinaga.

Mengikuti event atletik bergengsi skala Internasional, bukan kali ini akan dilakukan. Ternyata prestasinya cukup banyak di ajang atletik, baik dalam dan luar negeri. Total 9 tropi dan 171 medali dari lomba atletik terpajang di rumahnya, di Dusun Ngemplak Tugel, Desa Krandon Lor, Kecamatan Suruh Kabupaten Salatiga Semarang.

“Kalau menang dapat duit, diberangkan ikut lomba dapat duit. Tapi duit utamanya dari ngayuh becak,” ujar pak Dar, kakek 10 cucu dari 5 anaknya.

Meski berusia lanjut, pak Dar tampak bugar. Berlari 22 kilometer pulang pergi dilakukannya setiap hari, dari rumahnya di ke pangkalan becak di kota salatiga, dan kembali pulang ke rumah. Becaknya dititipkan pak Dar di Jalan Kemuning Salatiga.

“Pulang pergi dari rumah menuju pangkalan becak saya lari. Sengaja becak saya taruh di pangkalan, biar bisa lari tiap hari,” alasan pak Dar biasa nongkrong dengan becaknya di jalan Pemotongan dan Jalan Jenderal Sudirman Salatiga.

Karena terbiasa lari, Pak Dar mengakui sering diminta mengikuti lomba untuk jarak 200 meter, 400 meter dan 800 meter. Sambil becanda dikatakannya, “Saya boleh diadu kalau ada jarak kelas jauh.”

Pak Dar tipe kakek gaul. Di pangkalan banyak temannya, baik tua maupun muda. Bahkan pakaian yang dikenakan pak Dar mengayuh becak juga nyentrik, sambil menjalankan profesinya sebagai tukang becak. Mulai dari kaos, celana dan kaos kaki berwarna ngejreng.

“Males ganti pakaian. Karena saya memakai pakaian olahraga dari rumah, sambil olahraga lari menuju pangkalan,” jelas pak Dar.

 

Kontributor Salatiga: Wawan Salahudin