Kepercayaan itu dilihat dari janjinya

Dalam berbagai kesempatan, persisnya saat berlangsungnya Pilkada DKI tempo hari, Sandiaga Uno yang berpasangan dengan Anies Baswedan, meyakinkan rencananya menggratiskan masyarakat Jakarta masuk Taman Impian Jaya Ancol. Wakil Gubernur DKI terpilih itu beralasan, banyak masyarakat khususnya menengah ke bawah, terhadang mahalnya biaya masuk untuk menikmati pantai ancol.

Niat mulia Sandiaga di amini warga DKI. Berharap janji terucap olehnya, bukan sekedar pemanis kata – kata saat Pilkada DKI. Saat pasangan Anies-Sandiaga dengan nomer urut 3, berupaya merebut simpatik warga DKI, dari persaingan beratnya ‘melawan’ pasangan Agus Harimukti-Murni dan Ahok-Jarot.

Terlebih berat pada putaran kedua. Pasangan Anies-Sandi mengatur strategi jitu, untuk mampu memenangkan ‘pertandingan’ Pilkada DKI menghadapi pasangan Ahok–Jarot. Berbagai rencana dikumandangkan, mulai DP rumah Nol persen, sampai masuk ancol gratis.

Celetuk tetangga rumah bernama pak Manurung. Pria batak ini merasa apa yang terucap janji pasangan Anies-Sandi, wajar masuk akal dan bisa terleasasi. Bahkan tidak sulit dilakukan.

“Misalnya soal DP rumah Nol Persen. Banyak sekali telah dilakukan para pengembang perumahan. Dulu dengan kartu Jamsostek saja sudah bisa jadi DP rumah. Ada juga dengan kredit terjangkau sampai 20 tahun dengan DP 1 juta. Apalagi membebaskan masuk Ancol. Justru sangat mudah. Karena Ancol merupakan BUMD, yang sahamnya pemprov DKI 80 puluh persen,” ujar Manurung.

Kewenangan itulah yang ditunggu masyarakat DKI. Kewenangan sebagai Gubernur dan wakil gubernur DKI terpilih. Kewenangan yang dapat dilakukan, semudah mengucap akan membebaskan masuk ancol gratis.

“Kalau tidak mudah, tidak mungkin mereka katakan dong. Tentu mereka punya alasan, kenapa bicara semudah seperti itu. Kalau mau dan tidak ada kepentingan, mudah kok dilakukan. Kadang yang membuat menjadi sulit, karena mencari-cari cara menyulitkan diri sendiri,” celetuk pak Dedi turut bersuara.

Akhirnya obrolan menjadi seru di warung nasi goreng Pak Jhon.  Mengangkat topik janji Anies – Sandi, pada pertengahan oktober tahun ini, duduk di kursi Gubernur dan wakil Gubernur DKI.

Bisa Kok

Secangkir kopi disajikan pegawai pak Jhon. Kembali sebatang rokok saya keluarkan dari bungkusnya. Lalu ujungnya saya bakar dan dihisap dalam-dalam. Asapnya dihembuskan perlahan-lahan. Sungguh nikmat, sambil menikmati obrolan tetangga tentang topik janji Anies-Sandi, pada Pilkada DKI tempo hari.

Ya, kalau mau dan tidak ada kepentingan pribadi, bisa kok dilakukan. Dan semestinya sangat bisa. Apalagi Tuhan yang memiliki pantai yang berada di kawasan Ancol itu. Namun akhirmya di komersilkan oleh manusia bermental kapitalis.

Sementara jika melihat Kang Dedi selaku bupati Purwakarta, justru MAMPU mengratiskan siapapun masyarakatnya, melihat taman air mancur Sri Baduga. Tadinya hanya sebuah kolam taman tempat badak berendam.

Sungguh prihatin jika sebuah taman Sri Baduga yang didalamnya ada air mancur indah dan terbaik se Asia Tenggara, tidak dikomersilkan oleh Kang Dedi. Sementara pantai Ancol yang jelas-jelas ciptaan Tuhan, justru ‘diakui’ sebagai pemilik,  yang memberi namanya manusia.

Padahal di dalam kawasan Ancol, terdapat berbagai wahana dengan harga tiket masuk selangit. Artinya hanya masyarakat kalangan mampu saja menikmatinya. Selain harus membayar masuk gerbang ancol 25.000/orang, lalu membayar lagi wahana yang dikunjungi. Seperti Dufan, Sea World, dan sebagainya.

Kembali saya menghirup asap dari rokok esse change. Terlintas usulan pada Sandiaga, demi keinginannya terwujud menggratiskan warga DKI masuk ancol. Mungkin ide ini, telah ada dibenaknya. Syukurlah jika demikian.

Yakni, masyarakat tetap digratiskan masuk ancol. Tentu para pedagang kuliner dan lainnya, akan kecipratan rejeki dengan bertambahnya kunjungan warga masuk ke ancol. Para pedagang dapat diminta kontribusi pajaknya.

Dan tidak kalah pentingnya. Pemda DKI juga bisa meminta tambahan pajak pada pengelola wahana dari harga tiket masuk. Karena hanya masyarakat mampu sajalah yang dapat membeli dan masuk wahana yang ada di Ancol.

Biarlah masyarakat tidak mampu, cukup menikmati gratisnya masuk Ancol, dengan duduk di pasir pantai. Makan bersama keluarga, bersenda gurau di pantai yang jelas-jelas milik ciptaan Tuhan.

“Yuk pulang,” ajak pak Manurung menggugah lamunanku. Sambil berjalan kaki menuju rumah, kembali sebatang rokok kunyalakan lagi. Di tengah jalan sudah dekat rumahnya, dikatakan pak Manurung, “Tadi hasil pembicaraanya, Kita lihat saja ditepati tidak janjinya. Kepercayaan sudah diberikan pada Anies-Sandi. Dan kepercayaan dilihat dari janjinya.

Saya pun anggukan kepala. Setuju dengan penjelasan tetangga saya itu. Karena Sandiaga pun janji, baru bisa melaksanakan janjinya, setelah duduk di kursi wakil Gubernur DKI. Dan Anies Baswedan sebagai gubernurnya.

“Akh, jangan sampai terucap, keputusan kan ada di Gubernur,”  Saya mulai melantur berpikir tidak baik. Astagfirulah.