Teganya anakku membuang orangtuanya

Kubesarkan dengan susah payah, kudidik dengan penuh cinta dan harapan, namun kusadari impian hidup tenang di masa tua tidak dapat kuraih. Ini kenyataan yang harus kulalui. Dicampakkan anak kandung sendiri, sebagai ‘balas jasa’ pada orangtua.

Kutatap rumah kecil satu-satunya harta terakhir kami miliki. Di rumah yang kini sudah lapuk, nyaris roboh di bagian atap, telah menghasilkan lima orang sukses dengan profesinya masing-masing. Bangga pada diriku sendiri, lima anak kami berhasil dalam hidupnya.

Kupandang terakhir kali, rumah yang menjadi sejarah hidupku, sebelum kulepaskan pada pembeli dengan tawaran teramat minim. Mungkin lebih tepat dikatakan, si pembeli ‘terpaksa’ membeli rumahku. Karena begitu banyak kekurangan yang ada, membuat banyak orang engan membeli rumah seluas 18 meter persegi, yang terletak di ujung gang sempit, hanya dapat dilalui pejalan kaki saja.

Kupegang tangan istri, wanita hebat yang telah berjuang bersamaku, mengantar masa depan anak-anak jauh lebih baik dari masaku berjuang mengais rejeki, yang kubawa tiap hari untuk makan istri dan kelima anak kami. Tangan kecil dan telah keriput istriku itu, saksi pergulatan kami sebagai orangtua mengantarkan mereka kini sukses hidupnya.

Tersenyum istriku saat pembeli menyerahkan uang 5 juta. Kutegarkan hati melihatnya tersenyum. Meski kuyakini bahwa jiwanya pedih, sepedih hatiku menerima kenyataan diperlakukan tidak terpuji oleh anak-anak. Begitu hancur hati kami sebagai orangtua, kata yang terucap dari lima anak kami.

Jangan datang kerumah, terngiang ucapan mereka. Ya, bukan satu dua anak menolak kedatangan kami ke rumahnya. Tapi kelima anak, yang dilahirkan dari rahim istriku, yang kami besarkan dengan susah payah.

Bahkan demi menjadikannya mereka berhasil dengan kehidupan baik saat ini, tidak terhitung berapa besar biaya telah kami lakukan. Tidak ada harta tersisa sama sekali yang dapat dijual, selain rumah reyot ini.

Sudah pak, yuk kita jalan sekarang, ucapan istriku membuatku tersadar dari lamunan sesaat. Kurangkuh tangannya meninggalkan rumah, menyusuri jalan ke terminal bus kediri. Berjalan kaki cukup jauh kami lalui sampai menuju jalan besar, lalu dilanjutkan dengan kendaraan umum.

Ibu bahagia kalau bapak tidak sedih, canda istriku menggodaku tidak larut dengan penyesalan. Seketika kuhentikan langkah kaki ini. Dalam lelah hidup di usia senja ini, kukatakan lembut padanya, Bapak tidak sedih, asal ibu juga tidak sedih. Kita mulai lembaran baru ya bu di Surabaya.

Tangannya kembali kupegang erat. Seakan kuberikan kekuatan energi, bahwa aku masih mampu memberinya kehidupan. Memberinya makan tanpa meminta bantuan dari anak-anak. Memberinya kebahagiaan tanpa dikunjungi anak-anak.

Duh Gusti, begitu kejamnnya mereka memperlakukan kami. Tujuh tahun berlalu, kami tidak dianggap ‘ada’. Tujuh kali lebaran tidak pernah kami dikunjungi. Tujuh tahun upaya kami datang mau melihat dilarang anak-anak ke rumahnya. Tujuh tahun sangat minim komunikasi.

Bijak dengan uang

Bekal uang lima juta dari penjualan rumah, kusikapi dengan bijak. Uang ini harta terakhir yang kami miliki. Dari uang inilah, aku memulai hidup di kota lain, yang masih asing kujelajahi.

Surabaya menjadi pilihanku. Kota besar yang kuanggap sebagai pilihan nekad, berani hidup tanpa di bekal keahlian. Berani tinggal di usia seperti ini di ibukota propinsi Jawa Timur. Kuputuskan membuang luka hati di kota ini.

Kulepaskan semua kenangan yang ada di kediri. Kutinggalkan tetangga baikku, yang memberi pinjaman telponnya, saat aku ingin menghubungi anak-anak. Kutinggalkan tulisan nomer handphone anak-anak di rumah sejarah itu.

Hanya aku dan istri kini tinggal di kontrakan seharga 200 ribu sebulan di Suabaya. Rumah petak yang ku anggap nyaman ditempati. Itupun mendapatkan alamat kontrakan itu, dari kernet bus yang membawa kami dari Kediri.

Bu, bapak mau beli sepeda bekas. Besok bapak mulai jualan kue yang ibu buat ya. Pamitku kemudian berlalu menuju rumah tetangga, yang mau menjual sepeda bekasnya.

Usai shalat Shubuh, kutinggalkan istri istirahat dirumah usai membuat kue buatan sendiri. Sepeda yang kubeli seharga 70 ribu, kukayuh menyusuri jalan sambil menghapal jalan pulang nantinya.

Dingin udara menyusuk tulang tak membuatku menyerah berjualan kue. Tiap hari kegiatan mengais rejeki kulakukan dengan suka cita. Kadang habis dibeli, namun kadang tersisa sedikit dagangan tidak terjual kubawa pulang.

Pekerjaan ini setidaknya membuat kami bertahan hidup. Bertahan untuk makan, bayar kontrakan dan pemakaian listrik seadanya. Bertahan dengan bijak menggunakan uang penjualan rumah. Bertahan untuk menjaga kesehatan, agar tidak sakit membeli obat atau ke dokter.

Kupenjamkan mata setiap malam menjelang tidur, mendoakan anak-anak pada Yang Maha Kuasa, agar kelima anakku tetap sukses dan bahagia dengan keluarganya masing-masing. Tidak ada dendam sedikitpun pada mereka, meski sakitnya hati ini sungguh perih kurasakan.

Duh Gusti, kuserahkan hidup ku dan istriku. Kuserahkan sisa usia kami, jika saatnya pun kami nanti menghadapMu, hanya diantar tetangga sebelah rumah kontrakan.

 

Diceritakan Mulyono, di Surabaya

(WA 085246776009)