Komjen Budi Waseso, geram dengan teman dan aparat hukum ‘penjual’ profesi

Komjen Budi Waseso

Geram. Terlihat jelas pada sosok Komjen Budi Waseso, melihat ulah orang ‘terdekatnya’ berkhianat. Terlebih pengkhianatan yang dilakukan, ‘melecehkan’ upayanya mengepalai Badan Narkotik Nasional (BNN) sejak 2015, memberatas narkoba dari berbagai sendi kehidupan di masyarakat.

Salah satu jengkelnya pada Pretty Asmara, yang tertangkap reserse Polda Metro Jaya, senin dinihari (17/7), di hotel Grand Mercure, daerah Kemayoran Jakarta Barat. Pretty yang dikenal Buwas – panggilan akrab Budi Waseso, sebagai ketua Selebriti Anti Narkoba Indonesia (SANI), telah diberi pemahaman untuk tidak terjebak di pusaran narkoba.

“Ternyata terbukti kekhawatiran saya. Tujannya dekat dengan BNN, merupakan upayanya mempelajarai celah bagaimana BNN bekerja memberantas Narkoba,” prihatin Buwas.

Meski mengenal Pretty Asmara, Buwas tidak kenal kompromi dalam menghukum pihak jaringan Narkoba. Dirinya berprinsip pada tugas dan tanggungjawab sebagai aparat hukum untuk memberantas Narkoba.

Geram terlebih Buwas ditujukan juga pada Aiptu Suherianto, Kepala Pos Polisi Air Pantai Cermin Sumatra Utara, yang tertangkap membantu menyelundupkan 45,59 kg sabu dari Tiongkok lewat Malaysia. Saking geramnya, Buwas ingin oknum aparat hukum itu di tembak mati.

Ia berasalan, Aiptu Suherianto dan anak buahnya, telah ‘menjual’ kehormatan profesi polisi. Sehingga masyarakat menjadi terkecoh perbuatan Polisi Pol Air itu, dengan menggiring kapal kecil pembawa shabu 45,59 kg sabu dari Tiongkok, dianggap hal biasa.

Namun BNN bekerjasama dengan Ditjen Bea Cukai dan Polri, memantau pergerakan penyeludupan shabu, saat bersandar di sekitar pantai cermin Sumatra Utara, komplotan itupun diciduk saat bongkar muat. Pada Buwas, Aiptu Suherianto mengakui perbuatan telah 5 kali melakukan hal itu, dengan bayaran 125 juta per antaran.

“Saya berharap pensiun nanti (2018), digantikan orang yang 1000 kali hebatnya. Saya sudah lelah,” papar Buwas.