Indahnya Taman Air Mancur Sri Baduga, berawal dari tangan ‘kotor’

Air Mancur Sri Baduga

Purwakarta – Melihat indah dan megahnya air mancur Sri Baduga di Purwakarta, menjadi catatan tersendiri tentang sosok Dedi Mulyadi. Sang bupati Purwakarta rela tangannya kotor, memungut kotoran sampah tanpa sarung tangan.

Begitu kuat keinginannya menjadikan Taman Sri Baduga sesuai rencana besarnya, Kang Dedi –  sapa akrabnya, terlibat langsung membersihkan kolam yang dulu menjadi kubangan badak. Tanpa geli atau jijik, Ia mengambil sendiri berbagai kotoran maupun sampah di dalam kubangan.

Padahal ajudan mengingatkannya untuk memakai sarung tangan. Dalam kesederhanaan bicara, dikatakan kepala daerah ini, “Nanti juga dicuci bisa bersih.”

Dedi pun membuktikan menggunakan tangannya itu untuk makan. Ia membersihkan tangannya apa adanya dengan sabun, lalu melahap nasi bungkus yang disediakan untuk disantap bersama pekerja lainnya.

H. Dedi Mulyadi

Kenangan itu yang tidak terlupakan seluruh perangkat kerja Purwakarta, menyaksikan kang Dedi terlibat langsung pengerjaan taman Sri Baduga, yang kini didalamnya terdapat air mancur Sri Baduga, terbesar se Asia Tenggara.

Keindahan taman dan air mancur Sri Baduga, kini dinikmati banyak warga, baik penduduk setempat maupun masyakarat luar Purwakarta. Bahkan, air mancur Sri Baduga kini menjadi destinasi wisata masyarakat Internasional. Khusus datang ke Indonesia hanya untuk bisa melihat obyek wisata taman Sri Baduga.

Begitu populernya air mancur Sri Baduga, dibuktikan kehadiran Presiden Joko Widodo ke Purwakarta. Jokowi kagum dan bangga, melihat keindahan air mancur Sri Baduga, menjadi magnet wisata populer.

Setiap malam minggu, Air Mancur Sri Baduga dapat dilihat gratis. Umumnya ribuan masyarakat – dan bahkan puluhan ribu orang, sudah hadir sore hari di sekitar taman Sri Baduga, sambil menunggu dibukanya pertunjukkan air mancur Sri Baduga pada pukul 19.30 WIB sampai Pukul 22.00 WIB.

Antrian bus dan kendaraan lain, diatur sedemikian rupa demi menghindari kemacetan lalu lintas menuju taman sri baduga. Begitu juga demi menjaga suasana nyaman, ditempatkan pedagang makanan di area tersendiri, di sisi luar taman Sri Baduga. Sehingga masyarakat dapat leluasa menikmati wisatanya di Taman Sri Baduga.

Dedi begitu memikirkan arti dari gratis. Dengan kata lain, Ia memberi arahan segala biaya pengeluaran setiap malam minggu sebesar 23 juta rupiah ditanggungnya. Baik biaya tambahan gaji bulanan petugas kebersihan, penjagaan aparat keamanan, makan, dan lain sebagainya.

“Kalau gratis ya gak perlu bayar. Masak mau memberi hiburan harus bayar,” jelas kang Dedi.

Kalau di kabupaten atau daerah lain ada ya seperti Kang Dedi

Hanya saja, bupati Purwakarta ini prihatin pada masyarakat yang tidak menjaga keindahan taman. Sehingga Dedi kini memberi teralis pagar besi pembatas setinggi 5 meter.

“Lihat saja tanaman yang tidak dilindungi pagar, banyak yang tidak tumbuh. Kalau sekelilingnya dilindungikan, tidak terjadi,” jelas kang Dedi.

Terdapat tiga taman di Purwakarta telah dipagari. Yakni, Taman Pesanggrahan Padjadjaran atau Alun-alun Purwakarta, Taman Sri Baduga atau Situ Buleud, dan Taman Surawisesa yang kelak akan menjadi Taman Pintar, sekaligus diperuntukan untuk ruang publik ramah anak.

Untuk Taman Citra Resmi (bagian luar Taman Sri Baduga), Taman Pancawarna, Taman Maya Datar dan Taman Pembaharuan, sementara tidak dipagari dan bebas dikunjungi warga setiap hari. Taman Pembaharuan dapat dikunjungi tanpa dibatasi waktu. Sementara Taman Pancawarna dan Taman Maya Datar dibatasi setiap harinya dari Pukul 15.00 WIB hingga Pukul 18.00 WIB. Taman Pesanggrahan Padjadjaran atau Alun-alun Purwakarta sendiri hanya dapat dikunjungi setiap Minggu, mulai Pukul 08.00 WIB sampai Pukul 17.00 WIB.

Kecintaan kang Dedi pada keindahan dan taman, terlihat juga di rumah dinasnya, dan lingkungan sekitarnya. Ia mendesign sendiri penataan taman, dipadu dengan kolam ikan dengan padu padan diatasnya diberi jembatan, menuju bangsal pertemuan.

Begitu tertata dan menyejukkan mata setiap tamu yang berkunjung menemuinya. Sampai terucap kalimat dari sebagian besar artis datang bertandang menjumpainya, “Kalau di kabupaten atau daerah lain ada ya seperti Kang Dedi.”

(*Herman)