Bupati Purwakarta tumbuhkan kepeduliannya diikuti warga Purwakarta.

Purwakarta – Kepekaannya pada warga sudah sejak awal menjabat sebagai bupati Purwakarta. Rela mengocek uang pribadi, salah sipat kedermawanan Dedi Mulyadi yang terlihat dari penulis.

Baik warga maupun pekerja di lingkup Pemda Purwakarta, begitu mengenal ketulusan Kang Dedi – biasa disapa, memiliki karater kedermawananya. Bahkan niat tulusnya itu, engan di gembar-gemborkan ke media.

“Bapak orangnya demikian, tidak mau pamer,” jelas Herman salah satu ajudannya.

Bukan hanya kedermawan yang melekat kuat pada diri bupati Purwakarta ini. Kepekaan pada lingkungan dan warganya, Dedi Mulyadi dianggap banyak pihak gerak cepat. Baik mengadakan ambulance gratis pada warga yang membutuhkan, juga menyiapkan program lainnya untuk kemudahan warga Purwakarta dan sekitarnya.

Dalam rangka memulai tahun pelajaran, Dedi terpikir kebijakannya pada dunia pendidikan. Ia merasa tidak semua warganya memiliki kemampuan ekonimo baik. Sehingga dirinya menerapkan kebijakan, khususnya pada anak yang belum mampu memakai baju seragam ke sekolah.

“Bagi pelajar SD dan SMP di Purwakarta, tidak boleh ada paksaan pakai seragam sekolah, jika kondisi ekonomi pelajar dinilai kurang mampu,” tegas Dedi.

Sikapnya itu, merupakan keprihatinanya sebagai kepada daerah, pada kemampuan ekonomi warganya. Banyak keluhan dari orang tua yang tidak mampu, untuk membeli seragam, sepatu dan peralatan sekolah lainnya.

“Tidak ada paksaan untuk mengenakan seragam mulai tahun ajaran sekarang. Saya perlu tegaskan ini, juga perlu ada solusinya,” jelas Kang Dedi.

Untuk itu, Dedi meminta pihak sekolah melakukan indentifikasi ekonomi orangtua pelajar di masing-masing sekolah. Serta menumbuhkan budaya empati pada sesama pelajar.

Cara empati yang diterapkan Dedi, yakni pelajar yang ekonomi keluarganya dinilai mampu, dapat membantu pelajar yang keadaan ekonominya kurang mampu. Dengan cara itu, menumbuhkan semangat gotong royong, baik sesama pelajar, pribadi dan pemerintah.

(*Herman)