KH Hasyim Muzadi meninggal telah memberi tanda tanda

Umat Islam berduka, dengan meninggalnya mantan ketua umum Nahdlatul Ulama, juga anggota Watimpres Jokowi, kamis pukul 6 pagi (16/3) di rumahnya, jalan Cengger Ayam, Malang Jawa Timur. 40 hari sebelum meninggal, KH Hasyim Muzadi (72) telah memberi tanda-tanda kepergiannya. Innalilahiwainnalillahirojiun.

Kumandang tahlil terdengar dari dalam masjid di lingkungan pondok pesantren Al Hikam Depok, Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat. Di dalam pondok pesantren inilah, sesuai permintaan almarhum, KH Hasyim Muzadi dimakamkan, sesuai permintaannya sebelum meninggal.

Bahkan, almarhum yang menunjuk langsung lokasi kuburannya sendiri, yang berdekatan dengan mesjid. Seperti dikatakan Arif Zamhari merupakan menantu almarhum, KH Hasyim Muzadi ingin selalu dekat dengan santri, dan selalu ingin mendengar lantunan ayat Alquran dari para santrinya.

Tanda-tanda itu dirasakan Arif, sebagai sinyal akan kepergian tokoh pemersatu bangsa ini. Seperti diketahui, sosok almarhum dikenal ramah dan bersahabat dengan berbagai pihak. Almarhum mampu menunjukkan sikap sabarnya, dan terbuka untuk berbagai masalah. Sehingga kehadirannya dapat diterima oleh semua kalangan umat Islam.

Upacara Militer

Menurut rencana sore ini (16/3), KH Hasyim Muzadi bin Muzadi dimakamkan dengan prosesi militer, dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla. Hal ini dilakukan karena almarhum merupakan pejabat penting negara.

Upacara militer juga dilakukan saat almarhum diberangkatkan dari rumah di Malang menuju bandara Abdurahman Saleh Malang. Baik jenazah dan rombongan diberangkatkan dengan pesawat Hercules milik TNI AU.

Terlihat kesedihan mendalam dari para santrinya, dengan meninggalnya sosok panutan yang diperlihatkan KH Hasyim Muzadi selama hidup. Bahkan, 23 santri yang ikut dalam rombongan Hercules menuju Jakarta, begitu mendalam kesedihannya. Karena selama ini, 23 Santri itu yang dibawa almarhum menemaninya ke Malang.

Seperti dikatakan wakil keluarga, semula almarhum engan menjalani perawatan di Malang. Setelah dipertimbangkan oleh KH Hasyim Muzadi, akhirnya almarhum mau menuruti permintaan keluarga untuk menjalani perawatan di Malang, dengan syarat dapat membawa santri di pondok pesantrennya yang telah khatam Alquran.

“Permintaan almarhum dipenuhi, dan dari santri yang khatam kitab terpilih 23 orang. Begitupun, almarhum tetap minta jika meninggal dimakamkan di depok (pondok pesantren Al Hikam Depok),” ujar Abdul Hakim, anak tertua KH Hasyim Muzadi.

Adanya infeksi di paru yang berdampak pada sesak napas, membuat almarhum sempat dirawat di ruang Saphire VIP Rumah Sakit Lavalette Malang, awal januari lalu. Setelah sembuh barulah KH Masyim Muzadi menjalani perawatan di rumahnya. Sehari sebelum meninggal, Presiden Jokowi sempat menjenguk almarhum di kamar rumahnya.

Banyak pelayat hadir di pondok pesantren Al  Hikam. Baik Presiden Jokowi, juga menteri, pengusaha, pejabat pemerintah, juga masyarakat lainnya.

(*tim)