Siti Aisyah ditentukan nasib hukuman gantung 13 April

Dakwaan sebagai pembunuh berencana, ditetapkan pada Siti Aisyah (25), atas terbunuhnya Kim Chol sesuai pasport, yang kemudian diketahui ternyata Kim Jong Nam – kakak tiri Kim Jong Un, pemimpin Korea Utara, di ruang keberangkatan KLIA 2) Malaysia.

Dakwaan sama juga dituduhkan pada sahabat Siti Aisyah, yakni Doan Thi Huong (28), warga Vietnam. Kedua wanita itu meski menolak tuduhan, namun bukti keterlibatan tidak dapat dipungkiri. Dan pasrah menerima sangkaan sebagai bagian dari pembunuhan Kim Jong Nam.

Siti Aisyah menundukkan kepala, saat mendengar dakwaannya dituntut hukuman mati. Dalam hal ini, hukuman mati di Malaysia dilakukan dengan cara hukuman gantung sampai mati.

Putusan itu akan dilaksanakan tidaknya, tergantung putusan akhir pada 13 April 2017. Jika putusan nanti menguatkan putusan dakwaan tingkat pertama, maka setidaknya diatas 5 tahun baru eksekusi hukuman gantung itu dilakukan pada Siti Aisyah.

Airmata Siti Aisyah pun menetes. Ia tidak sangka, ulah oknum menyuruhnya melakukan sebuah permainan pada Kim Jong Nam berakhir dengan kematian.

“Siti Aisyah menyampaikan pada kami, agar keluarganya tidak perlu mengunjunginya di Malaysia. Minta di doakan saja. Terutama pada ibunya, dia minta agar jaga kesehatan,” ujar staf staf KBRI Kuala Lumpur.

Hukuman Mati ?

Hukuman mati di Malaysia diterapkan pada pelaku, yang terbukti bersalah melanggar hukum, yakni : penyalahgunaan obat terlarang, pembunuhan berencana maupun yang tidak direncanakan.

Karenanya, hukuman mati bila telah ditetapkan pada terdakwa, umumnya sulit diubah. Karena putusan final itu, telah melalui pertimbangan majelis hakim sebelum dibacakan.

Di masyarakat Malaysia, tidak mempermasalahkan hukuman mati. Mengingat penduduk negara itu mayoritas muslim konservatif. Yakni, membolehkan hukuman mati jika terbukti membunuh.

Ada 792.571 warganegara Indonesia tinggal dan bekerja di Malaysia. Para WNI itu dipandang sebagai bagian dari masyarakat Malaysia. Sehingga tidak membedakan masyarakat prkarena rakyat Indonesia sudah lama di sini. Kami menganggap sudah sebagian dari pribumi maupun pendatang.