Patrialis Akbar tersangka KPK

Patrialis Akbar

Hakim Konstitusi sekaligus ketua Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar (58), menganggap penangkapan atas dirinya oleh KPK, di Grand Indonesia rabu malam (25/1), merupakan ujian berat yang harus dilewatinya. Pria kelahiran Padang Sumatra Barat ini, merasa di fitnah, meski KPK menyita uang USD 20 ribu dan SGD 200 ribu dari tangannya, selain mengamankan  dokumen pembukuan perusahaan, catatan-catatan dan aspek lain yang relevan dengan perkara, voucher pembelian mata uang asing, dan draf putusan perkara nomor 129/PUU-XIII/2015 yang merupakan nomor perkara uji materi UU Nomor 41 Tahun 2014.

“Saya tidak pernah terima uang satu rupiah pun dari orang yang namanya Basuki. Apalagi Basuki itu bukan orang yang berperkara di MK. Tidak ada kaitannya dia dengan perkara itu. Dia bukan pihak yang berperkara,” papar kader PAN ini.

Patrialis ditangkap dan dituduh penerima suap, terkait uji materil UU Nomor 41 Tahun 2014, tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Selain itu, KPK juga menangkap Kamaludin dengan tuduhan penerima suap, serta Basuki Hariman, dan Ng Feni sebagai pemberi suap.

“Saya minta kepada MK tidak usah terlalu khawatir. Paling tidak memang nama baik MK sekarang agak tercoreng gara-gara saya dijadikan tersangka,” ujar Patrialis saat keluar dari Gedung KPK jumat dinihari (27/1)\

Dalam kasus itu, Patrialis dan Kamaludin dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dan Basuki serta Feni, dikenakan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.