Eman petugas kebersihan : Asiknya ‘Tukar Nasib’ dengan Kang Dedi

Melepas atribut kesehariannya sebagai tukang sapu, lalu berganti pakaian lengkap layaknya pejabat, itu yang terjadi pada Eman Sulaeman (70) – petugas kebersihan di Purwakarta pada malam tahun baru kemarin. Ia bersama 545 teman seprofesi, tukar nasib dengan para pejabat Purwakarta.

“Agenda tiap tahun ini, merupakan tradisi kami menyambut malam pergantian tahun di Purwakarta. Namanya tukar nasib. Ini sebagai bentuk penghargaan kepada pahlawan kebersihan. Mereka juga harus merasakan menjadi pejabat meski hanya beberapa saat,” ungkap Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.

Karena itu, baik kang Dedi, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, para pejabat esselon II, III, dan IV di lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta, berubah posisinya sebagai pelayan dan melayani Eman dan teman-temannya makan dan menggunakan fasilitas yang biasa digunakan pejabat di Purwakarta.

Seperti terlihat di Taman Pesanggrahan Padjadjaran Purwakarta, Eman dan teman-temannya, bersantai di meja makan sambil menikmati aneka hidangan, dengan standar VIP. Ia dilayani ‘pelayan istimewa’ mengantarkan berbagai hidangan makanan.

Eman cs terlihat gagah mengenakan kemeja lengkap dengan dasi, celana bermerk dengan sepatu baru. Bahkan, Eman cs dijemput dari rumah masing-masing dengan menggunakan mobil dinas yang biasa dipakai oleh para pejabat di Purwarkata.

“Kami ini kan pegawai rendah, cuma tenaga kontrak, tetapi malam ini kami merasa dimuliakan oleh pemerintah daerah,” bangga Eman.

Keberpihakan Dedi pada masyarakat kecil

Dedi Mulyadi menganggap kegiatan ini, ditujukan sebagai bentuk penghargaan kepada ‘Pahlawan Kebersihan’ Purwakarta. Sekaligus bertujuan sebagai upaya membangun ikatan emosi antar seluruh lini pegawai di lingkungan pemerintah Kabupaten Purwakarta, mulai dari pejabat sampai pegawai kontrak.

Cara kang Dedi mendapat sambutan positip, tidak saja dari lingkungan di Pemda Purwakarta, juga dari Eman cs yang merasa sejak kepemimpinan Dedi sebagai bupati Purwakarta banyak perubahan positip terjadi di lingkungan masyarakat bawah.

“Saya berterimakasih pada keberpihakan pemerintah daerah kepada para tukang sapu di Purwakarta. Sejak kepemimpinan kang Dedi, saya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya sekarang terima honor tiap bulannya 2 Juta rupiah. Sebelum dinaikan oleh Kang Dedi, Saya  hanya menerima 500 ribu rupiah,” jelas Eman, warga Kelurahan Nagri Kaler yang sudah puluhan tahun menjadi tukang sapu.

Bahkan, Dedi memberi hak tambahan pada Eman cs. Karena Eman cs dibolehkan libur kerja selama 2 hari, dan honor hariannya tetap dibayar penuh.

“Tugasnya mereka sehari-hari digantikan oleh para pejabat,” papar Dedi tersenyum.